Rabu, 21 Oktober 2009
Pengamen Muda

Suaranya keras ketika mendendangkan lagu. Sehingga bising suara kendaraan hampir bisa tertutupi. Hal itu menjadi pemandangan tersendiri bagi kami para penumpang bus di Palembang. Biasanya bus di sini di setel musik dengan volume yang cukup besar, jadi ketika hiburan musik dalam bus tersebut tidak ada, maka akan di gantikan oleh lantunan pengamen. Hampir di titik lampu merah ada pengamen, mulai dari anak-anak dengan peralatan yang sangat sederhana sampai pengamen dewasa dengan perlengkapan yang lumayan lebih lengkap. Ada yang hanya membawa kecrekan ada juga yang membawa gitar, drum sederhana ada juga yang gitar elektrik, sehingga seolah-olah ada konser di atas bus.
Dalam sebuah perjalanan daru Pusri ke Palembang, ada seorang pengamen naik ke bus yang ku tumpangi. Perawakannya masih muda dan sehat. Pakaiannya sederhana sebagaimana pengamen pada umumnya, tidak terlalu bagus dan tidak pula terlalu jelek. Gitarnya tampak lusuh karena sudah sangat lama sepertinya. Pada awal dia mengamen, di ucapka kata-kata yang cukup menyentuh. Dikatakan oleh dia bahwa dia adalah seorang pengangguran, dulu pernah di tangkap polisi karena kedapatan mencuri, kemudian dia juga menaku mempunyai istri dan anak. Dan diapun mengakui bahwa hanya mengamen yang bisa dilakukannya saat ini untuk menghidupi dirinya, istri dan anaknya. Dengan nada yang cukup memalas, sampai dimulai melantunkan sebuah lagu. Lagunyapun ladu sebuah derita yang di rasa olehnya. Cukup memilikan memang.
Ini adalah salah satu contoh, bagaimana kehidupan pengamen di kota besar. Harus kreatif dan berani. Lagu-lagu yang di bawakan oleh pengamen pun seperti sesuai dengan selera pasar. Ketika bulan ramadhan tiba, maka lagu-lagu bernuansa religi banyak di bawakan dan di bulan yang lain, maka lagu-lagu pop biasa. Bukan hanya lagu, pakaian yang di kenakanpun menyesuaknan dengan situasi. Pakaian koko dengan peci untuk laki-laki, dan pakei jilabab untuk yang wanita. Kebanyakan para pengamen adalah mereka pada usia produktif. Ini menjadi fenomena besar bangsa ini. Usia yang dmeikian seharusnya digunakan untuk hal-hal produktif. Maka menjadi tugas pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut.
Disisi lain, sebagai seorang masyarakat yang tiap hari tidak lepas dari pemandangan kehidupan sosial yang beragam. Pengamen menjadi sebuah sisi lain potret buruk bangsa ini. Ketika pendidikan sudah sulit di jangkau, lapangan kerjapun ternyata juga menjadi hal yang sulit di cari. Maka mengamen adalah salah satu pilihan. Bagi penumpang bus seperti saya, adanya pengamen adalah ladang amal, karena bisa memberikan pada yang memutuhkan dalam kasus tertentu. Namun untuk pembangunan sebuah bangsa ini menjadi sebuah pekerjaan rumah pemerintah untuk mengentaskan para lapisan sosial bawah sehingga bisa sejahtera.
wallahua'lam
Singing bowls are very useful in meditation, healing, and as instruments. Singing bowls can be played alone at home, in yoga classes, or in concerts. Like anything, learning how to play a singing bowls takes a bit of practice, but once you learn how to play one singing bowlyou will be able to play other singing bowls as well.
Singing Bowl Playing Environment
Find a calm environment where you can be alone and make your body comfortable. You might find it comfortable to sit in the floor on a pillow or to sit in a chair. Close your eyes for a moment just before playing your singing bowl so that you bring your body and mind to a calm, quiet space.
Holding The Singing Bowl
Please make sure you put the singing bowl on the front of your palm.
A common mistake in learning how to play singing bowls is to place the singing bowl in your fingers.
Striking the Singing Bowl
You can strike the singing bowl with a singing bowl mallet before you begin playing the bowl if you would like to, it is not required to do so for the singing bowl to play. Strike the singing bowl near the rim or the side of the bowl and the sound will make the singing bowl resonate for a while after.
Playing the Singing Bowl
Singing bowlsmake their sound, or sing, by rubbing the striker around the rim of the singing bowl. Wooden singing bowl strikers give the singing bowl a low tone. Leather wrapped singing bowl mallets give the singing bowl a lower tone. But different singing bowls make different sounds based on the shape of the bowl. Singing bowls can be curved inward, outward, or straight up and down. Each of these different shapes makes a different sound. We have included recordings of each singing bowl listed on our site so that when you shop for a singing bowl you can choose the sound you would like to purchase, as well as the color, size, and style.
Be sure to press the wooden singing bowl striker firmly against the rim of the singing bowl. The striker must remain in constant contact with your singing bowl. Move the striker slowly around the outside rim of the singing bowl and you will soon hear the singing bowl hum, or sing. Slowly run the mallet around the bowl with constant even pressure. If the hum of the singing bowl sounds inconstant, or choppy, slow down and continue to move the striker slowly along the outside of the singing bowl.
If you let the striker stray away from the side of the bowl, the singing may stop, in which case you start over, slowly increasing the speed without ever going too fast. Some bowls come to full volume in a couple of seconds, others take ten or more seconds. If you have trouble making your singing bowl sing, see the 'tips to remember' section below.
By adjusting the speed and angle of the mallet, the sound will change accordingly. Practice to find the speed and pressure that allows you to make the singing bowl hum, or sing. Find the proper balance of angle, speed, and pressure in order to make your singing bowl sing continuously for as long as you would like to play.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar: